Tugas deskripsi dalam mata kuliah Penulisan Kreatif oleh Mutia Khairunnisa
Program Studi Digital Communication Surya University
Kepalaku
nyut-nyutan. Berdenyut mengikuti
detak jantungku yang tak karuan. Kakiku berat seberat barbel 30 kilogram. Aku
merasakan beban yang luar biasa di pagi yang cerah ini. Badanku tidak mendukung
indahnya pagi itu di sebuah bangunan seperti kotak yang dikelilingi taman teletubbies walalupun tidak ada rumah
bundarnya serta kincir angin. Mataharinya pun tidak ada wajah si bayi mungil
yang menggemaskan seperti apa yang ku lihat di film. Aku tertunduk lesu di
dalam ruangan bangunan kotak ini yang suhunya dibawah 25 derajat Celcius
sementara aku hanya menggunakan kaos tipis karena aku tahu sekarang musim
panas. Udara dari pendingin ruangan yang keluar dari sela-sela ventilasi yang
bertengger di atas langit-langit ruangan semakin bersemangat menghembuskan
napas dinginnya ke seluruh penjuru ruangan ini. Tak peduli seberapa banyak
udara dingin yang dihembuskan si pendingin ruangan, jarum jam tangan yang ku
pakai terus berputar tanpa menggigil tak gentar walaupun satu detik. Aku heran
kenapa jarum jam ini tak menggigil. Aku mengerti. Si jarum jam berada di dalam
kaca yang tebal maka ia tidak menggigil kedinginan.
Kepalaku
sakit. Mataku berkunang-kunang. Dereta kursi yang berwarna hijau terang dan
dudukannya berwarna hitam seakan terlihat seperti klepon dengan gula aren cair
di dalamnya yang melelh sempurna ketika digigit. Aku tak bisa menahan hasrat
untuk menggigitnya. Mataku menangkap ruangan ini sepi. Hanya beberapa orang
saja yang masih di dalam kelas dengan kesibukan masing-masing. Ada yang sibuk
dengan laptopnya, mendengarkan alunan musik entah apa genre-nya di headset
mungil yang menyumbat lubang telinga mereka. Tak sadar mereka
mengangguk-anggukkan kepala dengan asyik mengikuti alunan musik yang hanya
mereka sendiri yang tahu iramanya. Aku bingung kenapa ruangan ini masih sepi.
Kemanakah yang lain? Pintu kayu di sudut ruangan itu ternganga lebar.
Membiarkan orang yang tidak mempunyai kepentingan bisa masuk. Aku sadar wajahku
sudah pucat. Bibirku kering karena dibelai dinginnya udara dari pendingin
ruangan. Apa yang salah padaku? Kenapa badanku menggigil semua? Kenapa semuanya
terasa berat?
Tiba-tiba
saja, beberapa temanku memanggilku dari luar ruangan. Mereka memasang wajah
ceria dengan melambaikan tangan ke arahku. Aku membalas lambaian tangan mereka
dengan lemas. Kepalaku berat sekali. Salah satu dari mereka berkata,”Woy! Lu ngapain bengong di dalam kelas? Kelas
udah kelar, kok masih di dalam?
Sekarang jam istirahat, tau! Ayo ke
kantin rame-rame!”.
Ah,
aku menepuk jidatku yang lebar. Aku sadar bahwa kelas hari ini sudah selesai.
Dosen yang mengajar sudah meninggalkan kelas beberapa menit yang lalu. Lalu,
kenapa aku merasa tidak enak? Perutku menangis dari tadi. Aku tidak peka.
Dinginnya suhu di dalam kelas membekukan otakku untuk bekerja. Aku merasakan
udara dari celah-celah ventilasi pendingin ruangan menertawakan kebodohanku.
Aku butuh makan. Benar. Aku harus ke kantin untuk menenangkan si perut yang
menangis keras seperti anak bayi kelaparan. Dengan semangat aku bangkit dari
kursi yang warnanya seperti klepon ini, lalu melangkahkan kaki dengan semangat
sampai keramik berwarna putih susu yang kuinjak ini sedikit mengeluarkan “krek” karena saking semangatnya bahwa
kelas sudah selesai. Mungkin aku terlalu kejam untuk membiarkan badan ini
dibelai-belai terlalu lama oleh udara dingin sementara perut ini butuh dibelai
juga dengan makanan. Aku sadar ternyata aku lapar. Aku pun meninggalkan ruangan
dengan senang. Perlahan-lahan, suhu udara terasa hangat. Mataku kembali
terbuka, kepalaku ringan, dan kaki melangkah dengan mantap menuju kantin. Aku
pergi meninggalkan ruangan kelas yang beku ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar