Rabu, 14 Oktober 2015

Dinginnya Kelasku (Program Studi Digital Communication)

Tugas deskripsi dalam mata kuliah Penulisan Kreatif oleh Mutia Khairunnisa

Program Studi Digital Communication Surya University


Kepalaku nyut-nyutan. Berdenyut mengikuti detak jantungku yang tak karuan. Kakiku berat seberat barbel 30 kilogram. Aku merasakan beban yang luar biasa di pagi yang cerah ini. Badanku tidak mendukung indahnya pagi itu di sebuah bangunan seperti kotak yang dikelilingi taman teletubbies walalupun tidak ada rumah bundarnya serta kincir angin. Mataharinya pun tidak ada wajah si bayi mungil yang menggemaskan seperti apa yang ku lihat di film. Aku tertunduk lesu di dalam ruangan bangunan kotak ini yang suhunya dibawah 25 derajat Celcius sementara aku hanya menggunakan kaos tipis karena aku tahu sekarang musim panas. Udara dari pendingin ruangan yang keluar dari sela-sela ventilasi yang bertengger di atas langit-langit ruangan semakin bersemangat menghembuskan napas dinginnya ke seluruh penjuru ruangan ini. Tak peduli seberapa banyak udara dingin yang dihembuskan si pendingin ruangan, jarum jam tangan yang ku pakai terus berputar tanpa menggigil tak gentar walaupun satu detik. Aku heran kenapa jarum jam ini tak menggigil. Aku mengerti. Si jarum jam berada di dalam kaca yang tebal maka ia tidak menggigil kedinginan.

Kepalaku sakit. Mataku berkunang-kunang. Dereta kursi yang berwarna hijau terang dan dudukannya berwarna hitam seakan terlihat seperti klepon dengan gula aren cair di dalamnya yang melelh sempurna ketika digigit. Aku tak bisa menahan hasrat untuk menggigitnya. Mataku menangkap ruangan ini sepi. Hanya beberapa orang saja yang masih di dalam kelas dengan kesibukan masing-masing. Ada yang sibuk dengan laptopnya, mendengarkan alunan musik entah apa genre-nya di headset mungil yang menyumbat lubang telinga mereka. Tak sadar mereka mengangguk-anggukkan kepala dengan asyik mengikuti alunan musik yang hanya mereka sendiri yang tahu iramanya. Aku bingung kenapa ruangan ini masih sepi. Kemanakah yang lain? Pintu kayu di sudut ruangan itu ternganga lebar. Membiarkan orang yang tidak mempunyai kepentingan bisa masuk. Aku sadar wajahku sudah pucat. Bibirku kering karena dibelai dinginnya udara dari pendingin ruangan. Apa yang salah padaku? Kenapa badanku menggigil semua? Kenapa semuanya terasa berat?

Tiba-tiba saja, beberapa temanku memanggilku dari luar ruangan. Mereka memasang wajah ceria dengan melambaikan tangan ke arahku. Aku membalas lambaian tangan mereka dengan lemas. Kepalaku berat sekali. Salah satu dari mereka berkata,”Woy! Lu ngapain bengong di dalam kelas? Kelas udah kelar, kok masih di dalam? Sekarang jam istirahat, tau! Ayo ke kantin rame-rame!”.

Ah, aku menepuk jidatku yang lebar. Aku sadar bahwa kelas hari ini sudah selesai. Dosen yang mengajar sudah meninggalkan kelas beberapa menit yang lalu. Lalu, kenapa aku merasa tidak enak? Perutku menangis dari tadi. Aku tidak peka. Dinginnya suhu di dalam kelas membekukan otakku untuk bekerja. Aku merasakan udara dari celah-celah ventilasi pendingin ruangan menertawakan kebodohanku. Aku butuh makan. Benar. Aku harus ke kantin untuk menenangkan si perut yang menangis keras seperti anak bayi kelaparan. Dengan semangat aku bangkit dari kursi yang warnanya seperti klepon ini, lalu melangkahkan kaki dengan semangat sampai keramik berwarna putih susu yang kuinjak ini sedikit mengeluarkan “krek” karena saking semangatnya bahwa kelas sudah selesai. Mungkin aku terlalu kejam untuk membiarkan badan ini dibelai-belai terlalu lama oleh udara dingin sementara perut ini butuh dibelai juga dengan makanan. Aku sadar ternyata aku lapar. Aku pun meninggalkan ruangan dengan senang. Perlahan-lahan, suhu udara terasa hangat. Mataku kembali terbuka, kepalaku ringan, dan kaki melangkah dengan mantap menuju kantin. ­Aku pergi meninggalkan ruangan kelas yang beku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar